Rabu, 11 Maret 2020

khalifah abu bakar

BIOGRAFI 
Abdullah bin Abu Quhafah 572 – 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H) atau yang lebih dikenal dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu pemeluk Islam awal, salah satu sahabat utama Nabi, dan khalifah pertama sepeninggal Nabi Muhammad mangkat. Melalui putrinya, 'Aisyah, Abu Bakar merupakan ayah mertua Nabi Muhammad. Ash-Shiddiq yang merupakan julukan Nabi Muhammad kepada Abu Bakar merupakan salah satu gelar yang paling melekat padanya. Bersama ketiga penerusnya, Abu Bakar dimasukkan ke dalam kelompok Khulafaur Rasyidin.
Sebagai pemeluk awal Islam, Abu Bakar telah mengambil berbagai peran besar. Melalui ajakannya, Abu Bakar berhasil mengislamkan banyak orang yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam, di antaranya adalah 'Utsman bin 'Affan yang kemudian menjadi khalifah ketiga. Abu Bakar juga turut serta dalam berbagai perang seperti Perang Badar (624 M/2 H) dan Perang Uhud (625 M/3 H). Kedekatan dan kesetiaannya pada Nabi Muhammad merupakan satu hal yang sangat melekat pada diri Abu Bakar, utamanya terlihat saat mendampingi Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan kepatuhannya dalam menerima keputusan Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah, meski banyak sahabat Nabi kala itu tidak menyepakati perjanjian tersebut karena dipandang berat sebelah.
Abu Bakar dinyatakan sebagai khalifah sepeninggal Nabi Muhammad, menjadikannya sebagai khalifah pertama umat Islam. Masa kekuasaannya yang singkat dipusatkan pada pemadaman pemberontakan suku-suku Arab yang menolak tunduk pada Abu Bakar. Dalam banyak hal, Abu Bakar berusaha mengeluarkan kebijakan yang tidak berbeda dengan Nabi Muhammad, seperti penolakannya untuk mencopot Khalid bin Walid dari kedudukannya sebagai panglima.

Nama lahir Abu Bakar adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Nabi menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Nabi memberinya gelar yaitu Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi'raj yang diceritakan Nabi kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama "Abu Bakar ash-Shiddiq"
Nama lengkapnya adalah 'Abdullah bin 'Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Quraisy. Bertemu nasabnya dengan nabi pada kakeknya bernama Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay dan ibu dari Abu Bakar adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah Bani Taim.
Abu Bakar lahir di kota Mekah sekitar tahun 573, dari keluarga kaya dalam Bani Taim.[1] Ayah Abu Bakar bernama Uthman Abu Quhafa (panggilan Abu Quhafa) dan ibunya bernama Salma binti Sakhar (panggilan Umm-ul-Khair). Abu Bakar menghabiskan masa kecilnya seperti anak Arab pada zaman itu di antara suku Badui yang menyebut diri mereka dengan nama Ahl-i-Ba'eer atau rakyat unta. Pada masa kecilnya, Abu Bakar sering sekali bermain dengan dengan unta dan kambing, dan kecintaannya terhadap unta inilah yang memberinya nama "Abu Bakar" yang berarti, bapaknya unta.[2]
Ketika umurnya berusia 10 tahun, Abu Bakar pergi ke Suriah bersama ayahnya dengan kafilah dagang. Nabi Muhammad yang pada saat itu berusia 12 tahun juga bersama kafilah tersebut. Pada tahun 591, Abu Bakar yang pada saat itu berusia 18 tahun pergi untuk berdagang, berprofesi sebagai pedagang kain yang memang sudah menjadi bisnis keluarga. Dalam tahun-tahun mendatang Abu Bakar sering sekali bepergian dengan kafilahnya. Perjalanan bisnis membawanya ke Yaman, Suriah dan beberapa tempat lainnya. Perjalanan bisnis inilah yang membuatnya semakin kaya dan semakin berpengalaman dalam berdagang.
Bisnisnya semakin berkembang, mempengaruhi status sosial Abu Bakar. Meskipun ayahnya Uthman Abu Quhafa masih hidup, Abu Bakar diakui sebagai kepala sukunya. Seperti anak-anak lain dari keluarga pedagang Mekah yang kaya, Abu Bakar adalah orang terpelajar (bisa menulis dan membaca) dan dia menyukai puisi. Abu Bakar biasanya menghadiri pameran tahunan di Ukaz dan ikut berpatisipasi dalam simposium puitis. Ia memiliki ingatan yang bagus dan pemahaman yang baik mengenai silsilah atau asal usul suku-suku Arab, sejarah dan juga politik mereka.[3]
Sebuah cerita ketika Abu Bakar masih kecil, ayahnya membawanya ke Ka'bah, dan meminta Abu Bakar berdoa kepada berhala. Setelah itu ayahnya pergi untuk mengurus urusan bisnis lainnya, meninggalkan Abu Bakar sendirian dengan berhala-berhala tersebut. Abu Bakar lalu berdoa kepada berhala, "Ya Tuhanku, aku sedang membutuhkan pakaian, berikanlah kepadaku pakaian". Berhala tersebut tetap acuh tak acuh tidak menanggapi permintaan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar berdoa kepada berhala lainnya dan mengatakan "Ya Tuhanku, berikanlah aku makanan yang lezat, lihatlah aku sangat lapar". Berhala itu masih tidak memberikan jawaban apapun dan acuh tak acuh. Melihat permintaannya tidak dikabulkan, kesabaran Abu Bakar habis lalu mengangkat sebuah batu dan berkata kepada berhala tersebut. "Di sini saya sedang mengangkat batu dan akan mengarahkannya kepadamu, kalau kamu memang tuhan, maka lindungilah dirimu sendiri". Abu Bakar lalu melemparkan batu tersebut ke arah berhala dan meninggalkan Ka'bah. Setelah itu, Abu Bakar tidak pernah lagi datang ke Ka'bah untuk menyembah berhala-berhala di Ka'bah.[4]
Setelah kembali dari perjalanan bisnis dari Yaman, Abu Bakar diberi tahu oleh teman-temannya bahwa ketika beliau tidak berada di Mekah, Muhammad menyatakan dirinya bahwa beliau adalah seorang utusan Allah. Tabari, ahli sejarawan muslim yang paling terkenal, dalam Ta'rikhnya mengutip perkataan dari Muhammad Bin Sa'ad Bin Abi Waqqas, yang mengatakan:
Aku bertanya kepada ayaku apakah Abu Bakar orang pertama yang masuk Islam. Beliau menjawab, "Tidak, lebih dari 50 orang masuk Islam sebelum Abu Bakar, tetapi beliau lebih unggul sebagai seorang Muslim. Umar bin Khattab masuk Islam setelah 55 laki-laki dan 21 perempuan. Adapun salah satu yang terkemuka dalam Islam dan iman, itu adalah Ali bin Abi Thalib".[5]
Sunni dan semua muslim Shi'a mempertahankan pendapat mereka bahwa orang kedua yang secara terang-terangan menerima Muhammad sebagai utusan Allah adalah Ali bin Abi Thalib, dan orang yang pertama adalah Khadijah.[6]
Ibnu Katsir dalam bukunya Al-Bidayah wan Nihayah memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat di atas. Dia berpendapat bahwa wanita yang pertama kali masuk Islam adalah KhadijahZaid bin Haritsah adalah budak pertama yang masuk Islam. Ali bin Abi Thalib adalah anak kecil pertama yang masuk islam karena pada waktu ia masuk Islam, Ali belum dewasa pada waktu itu. Adapun laki-laki dewasa yang bukan budak yang pertama kali masuk islam yaitu Abu Bakar.[7]
Dalam kitab Hayatussahabah, dituliskan bahwa Abu Bakar masuk Islam setelah diajak oleh Muhammad. Diriwayatkan oleh Abu Hasan Al-Athrabulusi dari Aisyah, ia berkata:
Sejak zaman jahiliyah, Abu Bakar adalah kawan Rasulullah. Pada suatu hari, dia hendak menemui Rasulullah, ketika bertemu dengan Rasulullah, dia berkata, "Wahai Abul Qosim (panggilan nabi), ada apa denganmu sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain lain lagi?" Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah dan aku mengajak kamu kepada Allah." Setelah selesai Rasulullah berbicara, Abu Bakar langsung masuk Islam. Melihat keislamannya itu, dia gembira sekali, tidak ada seorang pun yang ada di antara kedua gunung di Mekkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan dia. Kemudian Abu Bakar menemui Utsman bin AffanThalhah bin UbaidillahZubair bin Awwam, dan Sa'ad bin Abi Waqas, mengajak mereka untuk masuk Islam. Lalu, mereka pun masuk Islam.
Abu Bakar lalu mendakwahkan ajaran Islam kepada Utsman bin AffanThalhah bin UbaidillahZubair bin AwwamSa'ad bin Abi Waqas dan beberapa tokoh penting dalam Islam lainnya.[8][9]
Istri pertama Abu Bakar yang bernama Qutaylah bint Abd-al-Uzza tidak menerima agama Islam lalu Abu Bakar menceraikannya. Istrinya yang lain yang bernama Ummi Ruman menjadi mualaf. Semua anak Abu Bakar menerima agama Islam kecuali Abdurrahman bin Abi Bakar sehingga membuat mereka berpisah, walaupun pada akhirnya Abdurrahman kelak menjadi seorang Muslim setelah Perjanjian Hudaibiyyah.
Masuk Islamnya Abu Bakar membuat banyak orang masuk Islam. beliau membujuk teman dekatnya untuk masuk Islam sehingga banyak temannya menerima ajakan tersebut.
Ketika Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, ia pindah dan hidup bersama Abu Bakar. Saat itu Muhammad menjadi tetangga Abu Bakar. Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya. Mereka berdua berusia sama dan hanya berselisih 2 tahun 1 bulan lebih muda daripada muhammad, pedagang dan ahli berdagang.

khalifah ali bin abi talib


Hasil gambar untuk khalifah ali bin abi thalib
khalifah ali. Ali bin Abi Thalib lahir pada tanggal 23 Rajab tahun 23 sebelum Hijriyah keturunan Bani Hasyim yang sejak kecil diasuh oleh Sayyidatu Khodijah, yang merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang memeluk Islam pada saat usianya yang masih dini sekitar usianya, yang termasuk kedalam As-Sabiqunal Awwalun. Ali mendapatkan pelajaran-pelajarn penting saat itu, langsung dari Rasulullah, dan sebagai salah satu pemeluk Islam yang terdahulu, Ali telah terlibat dari berbagai hal yang besar pada saat masa kenabian Rasulullah SAW.
Walaupun Ali merupakan sosok yang paling muda diantara para sahabat-sahabat yang lainnya, tidak menjadikan alasan baginya untuk membela dan memperjuangkan Agama Islam yang di Ridhai Allah SWT. Sebagai contohnya saja, Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Rasul sebagi seorang yang berbaring ketika terjadi penyerbuan di rumah Rasul SAW, yang dilakukan guna mengkelabui para kafir quraisy pada saat itu supaya tidak terkesan kosong, yang pada saat itu Rasul berdiam diri di goa Tsur selama tiga hari bersama Abu Bakar, sebulum masa hijrahnya Rasulullah SAW. Ali juga mengkuti segala perang yang terjadi pada masa kenabian Rasulullah kecuali perang Tabuk, Ali berperan sebagai pengusung panji dan sebagai sekretaris atau pembawa pesan Rasul. Ali juga pernah di amanatkan untuk menjadi pemimpin perang pada perang Khaibar. Dalam hidupnya, Ali menikahi salah seorang perempuan yang mulia yakni Putri Rasulullah yakni Fathimah Az-Zahra, yang pada awal nasabnya Ali merupakan sepupu dari Rasulullah SAW, dan dengan pernikahan ini menjadikan Ali sebagai menantu Beliau.
Selepasnya masa yang pertama yakni masa kenabian, berdirilah khilafah-khilafah 'Ala Minhadzi An-Nubuwwah yang sering dikenal sebagai masa Khulafaur Rasyidin. Setelah berdiri dan meniggalnya tiga khilafah pertama Abu Bakar, Umar, dan Utsman dipilihlah Ali sebagai penerus kekhilafahan selanjutnya. Ali mempunya sifat yang taat dan tegas akan hukum-hukum yang telah disyari'atkan oleh agam Islam, maka ketika pema'afan putra Umar yakni Ubaidullah bin Umar, Ali termasuk seorang yang tidak setuju akan keputusan Utsman bin Affan pada saat itu, yang di mata Ali ialah qisas karena hukum bagi yang telah membunuh orang yang tidak salah, yang saharusnya apabila terjadi hukum qisas harus diberikan hakim atau pengadilan tidak bertindak sendiri. Yang pada mulanya sebelum Ali di baiat sebagai khalifah, di masa setelah terbunuhnya Utsman pada saat pengepungan wilayah kediamannya, umat Muslim mengalami Vacum of Power, dan pada saat itulah terjadi pergolakan. Kemudian ketika terbunuhnya Utsman tidak ada persiapan untuk pemilihan kekhalifahan selanjutnya, tapi ada kandidatnya yakni Talhah, Zubair, dan Ali. Namun akhirnya ditujukan kepemimpinan ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang dimana para kelurga dari Utsman bin Affan menuntut kepada Ali yang mana harus menyelesaikan permasalahan atau tragedi pembunuhan Utsman sebelum di baiat.


Dalam kepemimpinannya, Ali mengirim Sahul ke Syiria untuk menjadi gubernur di Syiria sana dan menggantikan kedudukan Muawwiyah disana. Sedang disisi lain, Muawwiyah tidak berbaiat kepada Ali sebelum Ali menyelesaikan kasus pembunuhan Utsman bin Affan. Terjadi huru-hara pada saat kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang salah satunya merupakan terjadinya perang jamal yang terjadi atas kesalah pahaman antar mereka, yang terjadi akibat adu domba para munafiqiin, yang mengadu domba antara Ali dengan para sahabat yang lainnya seperti Talhah, serta Zubair yang kemudian salah satunya merupakan isteri Rasulullah Aisyah.
Perang ini merupakan benarnya sebuah kabar yang pernah di kabarkan oleh Rasulullah pada saat itu, yang apabila tidak terjadi maka dustalah Rasulullah. Yang dikabarkan oleh Rasulullah kepada orang-orang yang bersangkutan akan perang ini, misal kepada Ali serta Zubair. Dalam perang ini gugur dua sahabat yakni Zubair dan Talhah, yang terjadi akibat kesalah pahaman yang dipicu oleh khawarij, dan yang membunuh mereka bukanlah sahabat sendiri melainkan para khawarij itu.
Lambat laun pada tanggal 19 Ramadhan tahun 40 hijriyah saat sholat di Masjid Agung Kufah, yang secara tiba-tiba Ali yang sedang menunaikan sholat subuh diserang oleh orang khawarij dengan pedang yang diberi racun olehnya bernama abdurrahman bin muljam, dalam keadaan sujud ia diserang. Lantas setelah selesainya sholat Ali dia memerintahkan anak-anaknya agar tidak menyerang khawarij tadi apabila dirinya selamat, dan apabila Ali meninggal maka dia hanya diberi satu pukulan, terlepas apakah dia akan meninggal atau tidak. Dua hari setelah Ali diserang, beliau meninggal pada tanggal 21 Ramadhan, dan pada akhirnya dan pada akhirnya Hasan bin Ali memenuhi qisas dan memberikan kepada abdurrahman bin muljam atas apa yang telah dilakukan olehnya atas Ali, yang mengakibatkan Ali meniggal dunia.

biografi utsman bin affan

Hasil gambar untuk khalifah utsman bin affan


biografi

Utsman dilahirkan dari seorang yang ayah yang bernama Affan bin Abi al-'As , dari suku bani Umayyah, dan ibu yang bernama Arwa binti Kurayz , dari Abdshams , kedua suku kaya dan terpandang Quraish di Mekah . Utsman memiliki satu saudara perempuan, Amina. Utsman lahir di Ta'if. Ia tercatat sebagai salah satu dari 22 orang Mekah yang tahu cara menulis.
Ayahnya, Affan, meninggal di usia muda saat bepergian ke luar negeri, meninggalkan Utsman dengan warisan besar. Ia menjadi pedagang seperti ayahnya, dan bisnisnya berkembang, membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di antara orang Quraiys.
Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. Beliau dikenal sebagai pedagang yang kaya raya dan handal dalam bidang ekonomi namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia mendapat julukan Dzun Nurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah S.A.W. yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah S.A.W. sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah S.A.W., "Abu Bakar masuk tetapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?" Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”
Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah S.A.W. memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat wali kota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 950 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.
Ia adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan beberapa daerah kecil yang berada disekitar perbatasan seperti SyiriaAfrika UtaraPersiaKhurasanPalestinaSiprusRodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.
Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

Dimasa nabi Muhammad

Awal pindahnya ke agama Islam

Sekembalinya dari perjalanan bisnis ke Suriah pada tahun 611, Utsman mengetahui tentang misi yang dinyatakan Nabi Muhammad. Setelah berdiskusi dengan temannya, Abu Bakar , Utsman memutuskan untuk masuk Islam, dan Abu Bakar membawanya kepada Nabi Muhammad untuk menyatakan imannya. Utsman menjadi salah satu orang yang paling awal masuk Islam, mengikuti Ali , Zaid , Abu Bakar dan beberapa lainnya. Masuknya ia ke dalam agama Islam membuat marah sukunya, Bani Ummayyah, yang sangat menentang ajaran Nabi Muhammad.

Hijrah ke Habbasyiah

Utsman dan istrinya, Ruqayyah, bermigrasi ke Habbasyiah (Etiopia pada saat sekarang) pada bulan April 615, bersama dengan sepuluh pria Muslim dan tiga wanita. Sejumlah Muslim bergabung dengan mereka kemudian. Karena Utsman sudah memiliki beberapa kontak bisnis di Abyssinia, ia terus mempraktekkan profesinya sebagai pedagang dan ia terus berkembang.
Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah S.A.W. ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad S.A.W. untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka'bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.
Setelah empat tahun, berita menyebar di kalangan Muslim di Habbasyiah bahwa orang-orang Quraisy di Mekkah telah menerima Islam, dan penerimaan ini membujuk Utsman, Ruqayyah dan 39 Muslim lainnya untuk kembali. Namun, ketika mereka sampai di Mekah, mereka menemukan bahwa berita tentang penerimaan Quraish terhadap Islam adalah salah. Namun demikian, Utsman dan Ruqayyah kembali menetap di Mekkah.

Hijrah ke Madinah

Pada 622, Utsman dan istrinya, Ruqayyah, berada di antara kelompok ketiga Muslim untuk bermigrasi ke Madinah. Setelah sampai, Utsman tinggal bersama Abu Talha bin Thabit sebelum pindah ke rumah yang ia beli beberapa waktu setelahnya. Utsman adalah salah satu pedagang terkaya di Mekkah, tanpa membutuhkan bantuan keuangan dari saudara-saudara Ansari , karena ia telah membawa kekayaan yang sangat besar yang telah ia kumpulkan dengannya ke Madinah. Sebagian besar Muslim Madinah adalah petani dengan sedikit minat dalam perdagangan, dan orang Yahudi telah melakukan sebagian besar perdagangan di kota. Utsman menyadari ada peluang komersial yang besar untuk mempromosikan perdagangan di kalangan umat Islam dan segera memantapkan dirinya sebagai pedagang di Madinah. Dengan kerja keras dan kejujuran, bisnisnya berkembang pesat, membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di Madinah.

Kehidupan di Madinah

Ketika Ali menikahi Fatimah , Utsman membeli tameng Ali seharga lima ratus dirham. Empat ratus disisihkan sebagai mahar untuk pernikahan Fatimah, meninggalkan seratus untuk semua pengeluaran lainnya. Kemudian, Utsman mempersembahkan baju besi kembali ke Ali sebagai hadiah pernikahan.

Khalifah Abu Bakar (632-634)

Utsman memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Abu Bakar, karena itu karena dia yang telah pindah ke Islam Uthman. Ketika Abu Bakar terpilih sebagai khalifah, Utsman adalah orang pertama setelah Umar menawarkan kesetiaannya. Selama perang Ridda Utsman tetap di Madinah, bertindak sebagai penasihat Abu Bakar. Di ranjang kematiannya, Abu Bakar mendiktekan keinginannya kepada Utsman, mengatakan bahwa penggantinya adalah Umar.

Pemilihan Utsman

Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi ThalibUtsman bin Affan , Abdul Rahman bin AufSa’ad bin Abi WaqasZubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 23 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.
Utsman adalah seorang saudagar kaya yang menggunakan kekayaannya untuk mendukung Islam namun tidak pernah sebelum kekhalifahannya menunjukkan kualitas kepemimpinan atau benar-benar memimpin pasukan. Tetapi meskipun demikian, menurut Wilferd Madelung , ia dipilih oleh para pemilih sebagai satu-satunya calon kontra yang kuat untuk Ali karena ia sendiri dapat sampai batas tertentu menyaingi hubungan kekerabatan dekat Ali dengan Nabi.
RVC Bodley percaya bahwa setelah pembunuhan Umar, Ali menolak khalifah karena ia tidak setuju dengan mengatur sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Abu Bakar dan Umar, dan bahwa Utsman menerima ketentuan-ketentuan dan ia gagal untuk administrasi selama sepuluh tahun kekhalifahannya.

khalifah umar bin khattab


Hasil gambar untuk khalifah umar bin khattab
Umar bin Al-Khattab. Ia adalah empat khalifah besar selepas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat. Umar adalah khalifah besar yang menggantikan peran Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memimpin umat Islam.
Kekhalifahan Abu Bakar berlangsung sangat singkat, hanya 2 tahun 3 bulan. Sebelum wafat, Abu Bakar menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Umar, maka orang-orang pun membaiatnya. Abu Bakar menganggap Umar adalah orang yang paling pantas memikul tugas ini.
Nama lengkapnya adalah Umar bin Khattab bin Naufal bin Abdi ‘Uzza bin Riba’h bin Abdullah bin Qarh bin Razaah bin ‘Adiy bin Ka’b. Ia lahir pada tahun 581 masehi di Kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di Kota Mekkah saat itu.
Umar lahir dari keluarga bangsawan, ia pandai membaca dan menulis, yang pada saat itu merupakan sesuatu yang langka. Ia memiliki fisik yang tinggi besar dan memiliki karakter keras dan tegas, sehingga disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah. Ia juga dikenal sebagai seorang pemberani dan sering menyelesaikan peperangan yang terjadi di zaman Jahiliyah.
Sebelum masuk Islam, Umar sering melakukan adat istiadat jahiliyah, antara lain pernah mengubur hidup-hidup putrinya dan seorang peminum berat. Umar pun sangat memusuhi dan membeci Islam sebagaimana kebanyakan orang-orang Quraisy saat itu.
Masuk Islam
Peristiwa Islamnya Umar sangat istimewa. Suatu hari ia mencari Nabi Muhammad untuk membunuhnya. Di tengah perjalanan, ia mendapat berita bahwa adiknya yang bernama Fatimah telah masuk Islam. Umar sangat marah dan pergi ke rumah adiknya untuk membuktikan kabar tersebut.
Ketika Umar tiba di rumah adiknya, ia mendengar Fatimah sedang melantunkan beberapa ayat suci Al-Quran. Mendengar bacaan tersebut, Umar minta adiknya untuk memberikan lembaran tersebut, namun adiknya tidak memberikan bacaan tersebut sebelum Umar mandi. Selesai mandi, Umar menerima lembaran yang dibaca oleh adiknya. Maka bergetarlah hatinya ketika membaca ayat-ayat awal pada Surat Taha.
Kemudian Umar bergegas pergi ke rumah Nabi Muhammad dan menyatakan keislamannya. maka bergemalah takbir keluar dari mulut para sahabat yang hadir pada saat itu. Menurut riwayat, Umar masuk Islam setelah masuk Islamnya 40 laki-laki dan 11 perempuan atau orang ke-52 yang masuk Islam. Namun ada juga yang berpendapat Umar adalah orang ke-40 masuk Islam.
Setelah Umar memutuskan untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad, orang-orang Quraisy tak berani untuk mengusiknya apalagi menyakitinya. Sampai-sampai mereka pun menjadi ragu saat ingin mengganggu umat Islam sebagaimana yang sering mereka lakukan sebelum Umar memeluk Islam.
Setelah masuk Islam, sikap keras dan kebencian terhadap Nabi Muhammad dan umat Islam mulai berubah menjadi lemah lembut. Sebaliknya, sikap tegas dan keras tetap ditunjukan jika berhadapan dengan orang kafir.
Setan Takut Bertemu Umar
Dengan watak yang tegas dan keras, Umar menjadi pembela utama Nabi Muhammad dan umat Islam dari gangguan orang kafir. Hal ini menjadikannya mendapat gelar Al-Faruq. Tak hanya itu, umat Islam pun semakin kuat dan disegani.
Pada tahun 622 masehi, Umar ikut bersama Nabi Muhammad dan para pengikutnya berhijrah ke Yatsrib (Madinah). Umar sangat disegani oleh karena reputasinya pada masa lalu yang memang terkenal sejak masa sebelum memeluk Islam.
Umar juga dikenal sebagai orang terdepan yang selalu membela Nabi Muhammad dan ajaran Islam. Bahkan ia tanpa ragu menentang kawan-kawan lamanya yang dulu bersama-sama ikut menyiksa para pengikut Nabi Muhammad.
Saking kerasnya terhadap orang-orang yang memusuhi Islam, setan pun ikut ketakutan jika harus berhadapan atau bertemu dengan Umar. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda,
“Sesungguhnya setan benar-benar takut padamu wahai Umar. Tatkala aku duduk budak wanita itu memukul rebana, lalu masuk Abu Bakar, ‘Ali dan Utsman, dia masih memukul rebana,tapi tatkala dirimu yang datang budak wanita itu melemparkan rebananya.” (HR. Tirmidzi)
Bahkan, setan pun sangat takut untuk berpapasan dengan Umar. Rasulullah bersabda,
Wahai Putra Khattab, Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui.” Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Sungguh aku melihat setan dari kalangan manusia dan jin lari dari ‘Umar.” (HR. Tirmidzi)
Begitulah, kisah yang diriwayatkan Aisyah, sehingga menjadi kekuasaan Allah. Umar tak hanya ditakuti oleh musuhnya dari kalangan manusia bahkan musuh gaib pun takut kepadanya.
Menjadi Khalifah
Semasa Umar menjadi khalifah, wilayah Islam tumbuh sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan Persia dari tangan Dinasti Sassanid. Selepas itu berturut-turut membebaskan Mesir, Palestina, Suriah, Afrika Utara dan Armenia dari ke Kaisaran Romawi (Byzantium).
Umar banyak melakukan perubahan yang membuat umat Islam saat itu sangat maju. Pada tahun 638 masehi, Umar memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Meski demikian, Umar memiliki kehidupan sederhana. Ia tidak mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.
Sekitar tahun ke-17 hijriah yang merupakan tahun ke-4 ke khalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijriah. Jadilah sejak saat itu diberlakukan penanggalan hijriah menggantikan penanggalan masehi yang 500 tahun lebih tua.
Setelah kurang lebih 10 tahun memimpin umat Islam, Umar akhirnya wafat. Ia dibunuh oleh Abu Lu’luah,  seorang budak yang fanatik. Ia membunuh Umar saat akan memimpin salat subuh dengan cara menikamnya dengan sebilah pisau yang dilumuri racun selama tujuh hari.
Diketahui Abu Lu’luah adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia dikuasai Umar. Banyak sejarawan meyakini bahwa peristiwa pembunuhan ini dilatarbelakangi dendam terhadap Umar. Abu Lu’luah merasa sakit hati atas kekalahan Persia yang pada masa itu merupakan negara Adidaya.
Setelah Umar wafat, tampuk kekhalifahan dipegang oleh Ustman bin Affan.

khalifah abu bakar

BIOGRAFI  Abdullah bin Abu Quhafah   572  –  23 Agustus   634 / 21 Jumadil Akhir 13 H) atau yang lebih dikenal dengan  Abu Bakar Ash-Shid...